Laman

Kamis, 13 Maret 2014

Penerimaan Mahasiswa Baru Pendidikan Luar Sekolah FKIP Unmul 2014/2015

Bagi adik-adik yang berminat melanjutkan ke perkuliahan, kami dari HIMA PLS FKIP Unmul membuka kesempatan dengan penerimaaan mahasiswa baru tahun 2014/2015.
Prodi Pendidikan Luar Sekolah berada dalam naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman, Samarinda. Beralamat di Jl. Banggeris Samarinda, kompleks IP/IPS.

Pendidikan Luar Sekolah memiliki banyak peluang dan potensi besar. Karena itu di perkuliahan, mahasiswa PLS diajarkan kreativitas, inovasi, motivasi, pemberdayaan masyarakat, identifikasi dan problem solving di masyarakat, keterampilan, dan berwirausaha sehingga lulusan PLS mampu berdapatasi dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta memberdayakan potensi masyarakat menjadi mandiri. Lulusan PLS mampu memciptakan peluang usaha dan memecahkan masalah yang sering ditemui dalam kehidupan masyarakat. Tuntutan masyarakat yang menginginkan perubahan yang cepat dan kebutuhan yang mendesak, sehingga PLS-lah jawabannya ditengah kekakuan pendidikan formal yang semakin tidak relevan dengan perkembangan zaman. Contoh-contoh program PLS seperti : home schooling, kursus keterampilan, paket A/B/C, PAUD, TPA, KB, Keaksaraan fungsional, Taman Bacaan Masyarakat, bimbingan belajar, dll yang sangat berprospek dan diminati serta dibutuhkan masyarakat.

Jadi, bagaimana??? Berminat??? Yuk daftar dalam penerimaan mahasiswa baru PLS FKIP Unmul 2014/2015. Kuliah yang tidak membosankan, bermanfaat, dan berpeluang besar ada disini. Jika butuh info, silahkan lihat brosur kami berikut ini :


Salam PLS! Loyalitas Menuju Perubahan!

Tipe Partisipasi Masyarakat

Partisipasi pasif/manipulatif
a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi
b) Pengumuman sepihak oleh manajemen atau pelaksana proyek tanpa memperhatikan tanggapan  masyarakat.
c) Informasi yang dipertukarkan terbatas pada kalangan profesional diluar kelompok sasaran

Partisipasi dengan cara memberikan informasi
a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian seperti dalam kuisioner atau sejenisnya.
b) Masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penyelesaian.
c) Akurasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat

Partisipasi melalui konsultan
a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi
b) Orang luar mendengarkan dan membangun pandangan-pandangannya sendiri untuk kemudian mendefinisikan permasalahan dan pemecahannya, dengan memodifikasi tanggapan-tanggapan masyarakat.
c) Tidak ada peluang bagi pembuat keputusan bersama
d) Para profesional tidak berkewajiban mengajukan pandangan-pandangan masyarakat (sebagai masukan) untuk ditindaklanjuti.

Partisipasi untuk insentif materil
a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara menyediakan sumber daya seperti tenaga kerja, demi mendapatkan makanan, upah, ganti rugi dan sebagainya.
b) Masyarakat tidak dilibatkan dalam eksperimen atau proses pembelajarannya.
c) Masyarakat tidak mempunyai andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada saat insentif yang disediakan/diterima habis.

Partisipasi fungsional
a) Masyarakat berparisipasi dengan membentuk kelompok untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan proyek.
b) Pembentukan kelompok (biasanya) setelah ada keputusan utama yang disepakati.
c) Pada awalnya, kelompok masyarakat ini bergantung pada pihak luar (fasilitator, dll) tetapi pada saatnya mampu mandiri.

Partisipasi interaktif
a) Masyarakat berpartisipasi dalam analisis bersama yang mengarah pada perencanaan kegiatan dan pembentukan lembaga sosial baru atau penguatan kelembagaan yang telah ada.
b) Partisipasi ini cenderung melibatkan metode interdisiplin yang mencari keragaman prespektif dalam proses belajar yang terstruktur dan sistematis.
c) Kelompok-kelompok masyarakat mempunyai peran kontrol atas keputusan-keputusan mereka, sehingga mereka mempunyai andil dalam seluruh penyelenggara negara.

Self-Mobilization
a) Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara bebas (tidak dipengaruhi/ditekan pihak luar) untuk mengubah sistem-sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki.
b) Masyarakat mengembangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumber daya yang dibutuhkan.
c) Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumber daya yang ada.

Sabtu, 22 Februari 2014

KOMIK O. S. E episode 3

Hey.... kami kembali lagi setelah liburan semester, hehehehe.... Nah kangen kan yang terbaru dari komik O. S. E? Tenang, sekarang udah rilis episode 3, dijamin makin kece, makin inspiratif dan edukatif. Penasaran???
Baca ya kawan.... Salam PLS!






Terimakasih.... Salam PLS! Loyalitas Menuju Perubahan!

Senin, 20 Januari 2014

Dokumentasi Kunjungan Ke PAUD Anissa - Banggeris Samarinda

Hey kawan2.... HIMA PLS kembali mengadakan kunjungan ke PAUD Anissa loh di kampus Banggeris belakang kelas BK. Kunjungan diadakan Selasa, 10 Desember 2013. Meskipun telat kasih infonya.... hehehe...baru update. Kunjungan kali ini membahas sistem pengelolaan PAUD, yakni manajemen pengelolaan, peserta didik dan materi pembelajarannya. Serta kegiatan belajar-mengajarnya loh...

Rupanya nih, salah satu pengajar PAUD bercerita alasan orang tua memasukan anaknya bersekolah PAUD beragam, mulai dari sadar akan pentingnya pendidikan usia dini, cerita dari mulut-mulut mengenai keberhasilan anaknya belajar setelah mengikuti PAUD, atau supaya bila masuk sekolah formal (SD) anak akan terbiasa dengan sistem pelajaran dan lingkungan sekolahnya. Semua itu dari keinginan orang tua dan minat anak untuk mengikuti PAUD. PAUD membantu anak-anak agar mengenal pendidikan, baik secara kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga kedepannya anak-anak tumbuh baik dan sesuai dengan perkembangannya.


Berikut dokumentasi kegiatan kunjungan HIMA PLS. Check it out !!!

Gambar 1 : Pengajar PAUD Anissa


Gambar 2 : Kawan2 HIMA PLS memberikan pertanyaan seputar manajemen PAUD





Gambar 3 : Foto bersama kawan2 HIMA PLS dengan pengajar PAUD

Sekian dan terimakasih ya..... Salam PLS!!!
written by : Cheon_Na

Implikasi Asas Pendidikan Seumur Hidup

Ananda W.P Guruge dalam karangan diatas dalam garis besarnya dapat dikelompokkan dalam 6 kategori :

1. Pendidikan Baca Tulis Fungsional
    Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup karena relevansinya dengan kondisi yang ada pada negara-negara berkembang karena masih banyaknya penduduk yang buta huruf, melainkan juga sangat penting ditinjau dari implementasinya. Sebab itu realisasi baca tulis fungsional harus memuat 2 hal :
a) memberikan kecakapan membaca-menulis-menghitung yang fungsional bagi peserta didik
b) menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang dimilikinya

2. Pendidikan Vokasional
    Pendidikan ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai dan kemajuan teknologi tentang otomasi dan makin meluasnya industrialisasi menuntut pendidikan vokasional ini terus-menerus.

3. Pendidikan Profesional
    Dalam tiap-tiap profesi hendaknya tercipta built-in mechanism yang memungkinkan golongan profesional selalu mengikuti perubahan dan kemajuan dalam metode, perlengkapan, teknologi dan sikap profesionalnya.

4. Pendidikan Kearah Perubahan dan Pembangunan
    Pendidikan bagi anggota masyarakat dan berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan merupakan konsekuensi penting daripada asas pendidikan seumur hidup.

5. Pendidikan Kewargaan Negara dan Kedewasaan Politik
    Tidak saja bagi warga negara biasa, melainkan para pemimpin masyarakat pun sangat membutuhkan pendidikan kewargaan negara dan kedewasaan politik dan untuk itu, program pendidikan kewarga negara dan kedewasaan politik merupakan bagian penting dari pendidikan seumur hidup.

6. Pendidikan Kultural dan Pengisian Waktu Luang
    Spesialisasi yang berlebihan dalam masyarakat bahkan dimulai pada usia muda dalam pendidikan formal membuat manusia menjadi berpandangan sempit pada bidangnya sendiri, buta kekayaan nilai-nilai kultural yang terkandung pada warisan budaya masyarakatnya, sebab itu pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang secara kultural dan konstruktif merupakan bagian penting dari pendidikan seumur hiup.

Mengenai implikasi konsep ini pada sasaran pendidikan, Ananda W.P Guruge membagi dalam 6 kategori :
a) Para Buruh dan Petani
    Mereka dengan pendidikan yang sangat rendah atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali merupakan golongan terbesar penduduk di negara berkembang. Cara hidup tradisional merupakan hambatan psikologik bagi pembangunan dan bagi golongan ini program pendidikan baru mempunyai arti apabila :
- Menolong meningkatkan produktivitas mereka, baik hal itu dicapai melalui pengajaran keterampilan-keterampilan baru melalu metode-metode bertani yang baru yang memungkinkan untuk memperbaiki kehidupan mereka.
- Mendidik mereka agar memenuhi kewajiban sebagai warga negara dan sebagai kepala keluarga, sehingga menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.
- Memberikan jalan bagi mereka untuk dapat mengisi waktu senggangnya dengan kegiatan-kegiatan yang lebih produktif dan menyenangkan.

b) Golongan Remaja yang Terganggu Pendidikan Sekolahnya
    Golongan ini menganggur karena tidak mendapat pendidikan keterampilan atau unser-employed karenna kurang bakat dan kemampuan, memerlukan pendidikan vokasional, mereka perlu diberikan pendidikan kultural dan kegiatan kreatif dari pendidikan yang bersifat remedial, sebab itu program yang diberikan harus menarik, merangsang dan relevan dengan kebutuhan hidupnya.

c) Para Pekerja yang Berketerampilan
    Mereka memerlukan program pendidikan kewargaan negara dan pendidikan untuk meningkatkan waktu senggang secara produktif, namun golongan ini memerlukan program khusus dan harus mengandung 2 maksud :
- Harus menyelamatkan mereka dari bahaya keusangan pengetahuan dan otomasi kepada mereka perlu diberikan latihan-latihan kembali untuk mendapat keterampilan baru
- Harus membuka jalan untuk naik jenjang dalam rangka promosi kedudukan yang lebih baik.

d) Golongan Technicians dan Professionals
    Program pendidikan seumur hidup terlebih besar peranannya bagi golongan ini. Mereka umumnya menduduki posisi penting dalam masyarakat. Agar mereka tetap berperan dalam masyarakat, maka harus senantiasa memperbaharui dan menambah pengetahuan dan keterampilannya.

e) Para Pemimpin dalam Masyarakat
    Para pemimpin perlu selalu memperbaiki sikap dan ide-idenya agar mereka dapat tetap berfungsi memimpin masyarakat sesuai dengan gerak kemajuan dan pembangunan.

f) Golongan Anggita Masyarakat yang Sudah Tua
   Dengan bertambahnya panjang usia rata-rata manusia dan kesehatan pun lebih baik, maka jumlah anggota masyarakat yang lanjut usia semakin besar, dan mereka memerlukan pendidikan seumur hidup untuk mendapatkan kesempatan yang sangat berharga karena belum pernah memperoleh pada waktu muda.

Struktur Organisasi HIMA PLS Periode 2013/2014


KOMIK O.S.E (jeda)


Kawan2 PLS angkatan 2012

Kawan2 PLS angkatan 2012
Salam dari mahasiswa PLS 2012

PLS Angkatan 2012 Kece Banget...

PLS Angkatan 2012 Kece Banget...
Silahkan nilai sendiri dah :)

Kunjungan HIMA PLS ke BEM FKIP Unmul

Kunjungan HIMA PLS ke BEM FKIP Unmul
Kunjungan yang mempererat tali silahturahmi antara BEM FKIP Unmul dengan HIMA PLS Unmul

Pertemuan HIMA PLS dengan HMPKN

Pertemuan HIMA PLS dengan HMPKN
Pertemuan singkat untuk mempererat tali silahturahmi dengan hima lainnya.

Kunjungan Perwakilan Angkatan 2010 ke Universitas Negeri Malang

Kunjungan Perwakilan Angkatan 2010 ke Universitas Negeri Malang
Kunjungan dalam rangka Seminar KKNI PLS oleh Universitas Negeri Malang